
PERCAYA atau tidak, wanita seringkali mudah panik saat merasakan tanda-tanda pasangannya tergoda ‘orang ketiga’. Bawaannya emosi tinggi, bahkan ada di antaranya yang tanpa pikir panjang langsung meminta diceraikan.
Sabarlah sejenak. Karena di era teknologi yang makin maju sekarang, banyak sekali ‘orang ketiga’ yang sebenarnya tidak berbahaya. Beberapa pengalaman berikut ini mungkin bisa dipetik hikmahnya:
Susi, 25 tahun:
“Suatu malam saya mendengar suami saya sedang bertelepon mesrah dengan sembunyi-sembunyi di salah satu kamar. Pakai love you, nawari ML segala. Saya syok banget. Karena bisa dipastikan sedang bicara dengan ‘orang ketiga’. Saya hampir minta cerai.
Tapi, saya merasa bodoh kalau tidak tahu siapa ‘orang ketiga’ itu. Pikir saya, kalau saya langsung pergoki dia, pasti teleponnya dimatikan. Dan tidak sulit menghapus nomor dari memori. Jadi saya pura-pura tidak tahu.
Ketika suami lengah, diam-diam saya buka handphone-nya. Saya hafalkan nomor teratas di daftar panggilan keluar dan panggilan masuk. Saya lihat waktu teleponnya. Setelah saya yakini salah satu nomor yang baru saja dipakai kontak dengan ‘orang ketiga’, saya telepon dari handphone saya. Pasti dengan cara sembunyi-sembunyi juga.
Ternyata ‘orang ketiga’ itu pelacur party-line bertarif Rp 3.500/menit. Saya bersyukur tidak buru-buru minta cerai. Kalau cuma 3.500/menit, sangat murah dibanding jika keutuhan rumah-tangga saya terkoyak. Sejak itu saya termotivasi memberi fantasi lebih…”
Susanti, 40 tahun:
“Awalnya saya curiga. Setiap di ranjang mintanya macam-macam. Pakai gaya inilah, pakai gaya itulah. Jangan-jangan dia lakukan itu karena ada ‘orang ketiga’ yang ngajari..
Beberapa kali saya sampai nekad. Diam-diam menguntit kemana dia pergi, saya juga jadi rajin membuka sms dan memori panggilan di handphone-nya secara diam-diam, sampai diam-diam pula facebooknya saya tautkan di handphone saya. Tapi tidak sekali pun saya menemukan sesuatu yang mencurigakan.
Suatu saat, saya tiba-tiba tertarik untuk meminjam komputer di ruang kerjanya untuk browsing resep masakan. Begitu firefox saya buka, lha kok muncul barisan tab situs porno. Saya buka satu-satu, gambar-gambarnya persis yang dilakukan saat di ranjang. Rupanya wanita-wanita cantik dalam situs porno itu yang menjadi ‘orang ketiga’ dalam rumah tangga saya. Biarin aja deh… toh yang enak tetap saya”
Wati, 37 tahun:
“Saya tersinggung sekali saat tiba-tiba memergoki suami melihat film porno sambil onani. Saya protes, kurang apa saya dalam urusan ranjang? Setiap dia minta selalu saya turuti. Tega-teganya melakukan hal tak senonoh itu. Terus terang saya jijik.
Saya mencoba bersabar tapi tidak kuat. Suatu saat kami duduk berdua membicarakan itu. Kenapa itu kamu lakukan?
Dia menunjukkan selembar hasil pemeriksaan dari sebuah laboratorium kesehatan. Asam urat suamiku tinggi. Apa kaitannya dengan onani?
Dia membuka laptopnya. Menunjukkan salah satu url, menayangkan artikel tentang kiat mengatasi asam urat. Salah satunya disebutkan, seks ternyata bisa menjadi obat asam urat sangat manjur. Saya tiba-tiba ingat, suatu saat suami saya sampai tidak bisa jalan gara-gara kakinya bengkak kena asam urat. Saya jadi ngeh.., mungkin yang saya berikan kurang sering untuk sebuah terapi. Sejak itu saya lebih proaktif memancing hasratnya bersenggama. ” (admin)