Jember, zonaberita.com – Para kekompok tani di Jember khawatir para petai akan ambruk digilas perdagangan bebas ASEAN-China (China Asean Free Trade Area, CAFTA. Sedang dinas pertanian sudah melakukan antisipasi menhan gempuran perdagangan bebas. Sementara petani masih saja disibukkan dengan bayang-bayang jatuhnya harga gabah.
Petani di Kabupaten Jember tak memahami apa itu perdagangan bebas. Bahkan, mereka tak memperdulikan. Tapi, para ketua kelompok tani dan paguyuban malah khawatir, petani lokal akan ambruk.
Salah contoh adalah tidak adanya regulasi sejak awal Januari 2010 ini terkait perdagangan bebas itu menyangkut produk pertanian. Padahal, produk pertanian lokal Jember terutama belum memenuhi target stok pangan Jatim dan nasional.
Kendati CAFTA tetap dilanjutkan diharapkan dengan ketidaksiapan petani itu, malah membuat dampak positif berupa semangat baru. Di sisi lain, masyarakat dengan mudah membeli barang murah dari produk Cina dan Asean, dengan bebas. Tapi, dampak negatifnya, jika produk lokal tidak mampu bersaing maka industri atau produk lokal akan ambruk.
Koordinator Forum Komunikasi Petani Jember, Jumantoro, menegaskan, sejauh ini mayoritas petani Jember tidak mengetahui apa itu CAFTA. Petani saat ini hanya memikirkan menghadapi musim panen raya. Saat ini harga gabah menjelang panen raya diprediksi jatuh.
Bahkan, saat ini harga gabah kering panen masih berkisar Rp 2.600, dan menjelang panen raya, biasanya harga itu turun hingga Rp 2.300. Ditambahkan, lambannya informasi CAFTA ke petani karena regenerasi di sektor pertanian lemah dan generasinya masih berfikir pertanian, padahal mayoritas penduduk ini masih bercocok tanam.
Dia khawatir jika kondisi ini dibiarkan maka jangan harap produk pertanian Jember bisa bersaing terhadap produk-produk dari cina. Sebenarnya jika bicara kualitas, produk lokal pertanian Jember tidak kalah. Hanya saja, sejauh ini petani masih minim terobosan dan inovasi.
Di pihak lain, Kepala Dinas Pertanian Jember, Ir Hari Wijayadi mengatakan CAFTA itu tidak bisa ditolak. Jember harus siap menghadapi CAFTA. Justru dengan CAFTA, produk Pertanian Jember harus dipacu kualitasnya dengan produk cina.
Dinas pertanian jauh-jauh hari sebelum pemberlakukan CAFTA, sudah melakukan persiapan semisal, pemberdayaan petani melalui penyuluh di lapangan, intensifikasi pertanian, dan pemberdayaan lain terkait SDM petani.
Terkait kualitas produk Pertanian Jember tak kalah dengan Cina, semisal kualitas buah-buahan jeruk, salak, manggis, durian masih bisa bersaing.
Sebenarnya kata dia, petani tidak perlu khawatir terkait CAFTA. Pemkab malah mendorong masyarakat petani meningkatkan kualitas SDM dan produknya.
Terpisah, Wakasubdolog Divre XI Jember, Subali Agung Gunawan menuturkan keberadaan CAFTA harus dihadapi masyarakat. Saat ini butuh pemikiran bersama dampak buruk pasca CAFTA. Khusus sektor pertanian, soal harga di Cina dan Asean, cenderung fluktuatif. Hanya yang harus diantisipasi pemerintah adalah harga yang ditawarkan adalah harus lebih murah dari harga dalam negeri.
Sehingga nantinya masyarakat akan memilih barang dari luar, akibatnya, industri produk pertanian dalam negeri kolaps. (ki/hs)
Dibaca: 26 kali

