GARENG datang dengan tergesa-gesa. Langkahnya yang sedikit pincang mendadak terhenti begitu melihat Semar sudah di hadapannya. “Ki, njenengan enggal-enggal ndelik kemawon (Anda cepat-cepat bersembunyi saja),” katanya dengan nafas tersengal-sengal.
Gareng benar-benar merasa itulah saat membalas budi. Putra pandita tidak terkenal ini mungkin tidak pernah muncul di dunia pewayangan seandainya tidak dibebaskan Semar dari kutukan. Ia merasa wajib menyelamatkan, ketika dalam perjalanan mengetahui ribuan massa menyebut-nyebut nama bapak angkatnya itu.
“Koe weruh teko ngendi yen onok ewuan wong nggoleki aku? (Kamu tahu dari mana?)” tanya Semar tenang.
“Kulo semerep saking pundi-pundi. Tiyang-tiyang niko sami rame. Ten stasiun, ten terminal, malah ten bandara. Sami umyek bade mekso njenengan sumingkir (Saya tahu dari mana-mana. orang-orang pada ramai. Di stasiun, terminal bahkan bandara. Pada heboh mau memaksa Anda lengser),” ujar Gareng.
“Aku dikon sumingkir teko ngendi? (Saya disuruh lengser dari apa)” tanya Semar lagi.
“Lha nggih dhuko. Kadhose tiyang-tiyang wicanten yen panjengan mboten pantes mimpin rakyat. Panjengan mboten becus dados raja (Tidak tahu. kayaknya orang-orang membicarakan kalau Anda tidak pantas memimpin rakyat. Anda tidak becus menjabat raja),” kata Gareng.
Semar tersenyum. Dengan suara khasnya ia lantas menasihati si Gareng. Dikatakan, kalau itu yang terjadi ia tidak perlu bersembunyi. Ribuan massa itu, menurutnya, sedang mencari Semar yang lain. Banyak istilah di luar bumi Astina yang menggunakan kata Semar. Ada Semar Mendem (mabuk), Kantong Semar, dan Semar yang lain.
Seperti diketahui, Semar Mendem adalah nama hidangan terbuat dari adonan tepung, berisi daging, dan cocok dimakan dengan cabe rawit. Kantong Semar adalah nama spesies tanaman yang bunganya bisa membuat serangga tidak bernafas, mati dan menjadikannya pupuk untuk hidupnya.
“Mboten Ki. Sing dipadosi tiyang-tiyang niku semar menungso. Tiyang sak ndunyo sing asmo Semar lak mung panjenengan. Tapi kok bade dikengken sumingkir, wong panjenengan niki Bapake Punokawan, sanes Raja (Tidak Ki. Yang dicari orang-orang manusia bernama Semar. Orang sedunia yang bernama Semar kan Anda. Tapi kok disuruh lengser, bukankah Anda cuma Bapak Punakawan, bukan raja),” Gareng menyela.
Menanggapi itu, Semar tetap tenang. “Lha yo embuh sing kate dikongkon sumingkir Semar sing ngendi. Yen koe wae ngerti aku mung Semar Bapake Punokawan yo rak wis toh. Berarti sing digoleki dudu aku (Tidak tahu yang mau dipaksa lengser Semar yang mana. Kalau kamu mengerti saya cuma Bapak Punakawan kan selesai persoalan. Berarti yang dicari bukan saya),” jelas Semar.
Semar dalam kitab-kitab pewayangan, memang bukan raja. Ia adalah penjelmaan Batara Ismaya, dewa yang ditakdirkan menjadi pelayan Resi Manumanasa, leluhur para Pendawa. Meski hanya bapak punokawan (pembantu), keagungannya dilukiskan sederajat dengan Prabu Kresna.
Gareng pun berspikulasi. Jangan-jangan massa yang berbondong-bondong itu sebenarnya hanya ingin memancing Semar keluar dari Klampis Ireng (tempat tinggal Semar) supaya menggantikan Prabu Kresna dari kursi raja.
Semar tentu saja bukan sosok yang mudah tertarik terhadap tawaran semacam itu. Ia sosok yang ditakdirkan sebagai guru kasih sayang, berpostur bulat seolah sebagai perwujudan bumi, berwajah tua tetapi berambut kuncung seperti bayi seolah keberadaannya untuk segala umur, berkelamin pria tetapi payudaranya seperti wanita seolah sebagai perwujudan keberadaanya yang mewakili segala jenis kelamin, jelmaan dewa tetapi hidup sebagai pelayan seoalah mewakili segala tingkatan sosial.
Lalu Semar siapa yang sedang dibicarakan Gareng? Dalam kisah asli Baratayudha dan Ramayana, nama tokoh Semar sama sekali belum ditemukan. Nama Semar sendiri baru terkenal dalam pewayangan Jawa, sejak zaman Mojopahit. Semar hanyalah tokoh ciptaan pujangga pada saat itu, untuk melukiskan kriteria bagaimana perwatakan pemimpin sejati yang diharapkan masyarakat.
Karena perwatakan Semar begitu sempurna, tak heran dalam kenyataan selalu ada tokoh yang mengklaim dirinya memenuhi kriteria Semar. Padahal selain Semar Mendem yang cuma enak dimakan, Kantong Semar yang hobinya makan ampas serangga, masih banyak lagi yang mengklain diri bernama Semar. Bahkan Togog, penasihat Kurawa yang mewakili perwatakan antagonis, lebih suka dikira Semar. Bukan saja karena bentuk fisiknya yang mirip tetapi juga iri melihat Semar yang miskin dihormati setara Prabu Kresna.
“Sing penting ngastiti. Sejatine Semar sik jumeneng neng Klampis Ireng karo Gareng (Yang penting waspada. Sesungguhnya Semar masih berada di Klampis Ireng bersama Gareng),” begitulah Semar mengobati kekhawatiran Gareng. Semoga semua masih bisa terhibur seperti Gareng.(***)
Oleh: Satrijo Prabowo
Menyambut Hari Anti-korupsi Dunia
9 Desember 2009
Dibaca: 37 kali


