PEREMPUAN ini multitalenta. Sebagai wanita karir, ia adalah seorang manager sebuah bank nasional terkemuka di Indonesia. Tak hanya sibuk berkarir, ia juga aktif di sejumlah organisasi perempuan.
Ia sangat aktif. Sebut saja namanya Susan. Selain sebagai wanita karir dengan posisi jabatan strategis, ia juga seorang ibu dari empat anak. Sudah jamak sepertinya, kesibukan yang menggunung membuat perhatiannya terhadap empat anaknya berkurang. Susan kewalahan mengatur perannya, perannya di sektor publik dan peran pentingnya di sektor domestik. Empat anaknya pun tak cukup kasih sayang, meski orang tua mereka sanggup menggaji lima pembantu untuk mengurusi mereka.
Ilustrasi cerita diatas menjadi gambaran bagaimana seorang perempuan masa kini sudah banyak bertransformasi, tak lagi hanya berkutat di sektor domestik namun juga telah berekspansi ke sektor publik. Perempuan tak hanya lihai berperan di sektor privatnya, namun juga mampu berjaya di ranah milik laki-laki. Lalu dengan munculnya ketimpangan tersebut, haruskah perempuan tetap menjalankan dua peran itu sekaligus?Atau mungkin memilih menjadi feminis sejati yang tak lagi butuh pria, ataukah lebih baik perempuan kembali ke ranah awalnya saja?
Kuliah Tjokroaminoto yang digelar hari ini (22/12) di FISIP sepertinya mampu menjadi jawaban dari semua pertanyaan itu. Dalam kuliah yang bertema “Dari Pendidikan Budi Pekerti Hingga Kepribadian Anti Korupsi: Mendefinisikan Peran Nasional Baru Perempuan”, Prof.Soetandyo Wignjosoebroto, MPA, Guru Besar Emiritus FISIP Unair mengungkapkan bahwa susah-susah gampang mendefinisikan peran perempuan di masa kini. Sebab perempuan di masa sekarang memiliki tugas yang lebih berat jika tak ingin ketinggalan.
Zaman yang telah berubah menuntut perempuan harus mampu memainkan dua peran sekaligus, yaitu perannya di ranah domestik sekaligus di ranah publik. “Seiring perubahan zaman, perempuan harus mampu menjalankan dua peran itu. Jika perempuan punya peran besar di ranah publik, maka akan timbul deferensiasi peran. Peran tak akan lagi seketat dulu, dimana laki-laki yang di ranah publik, dan perempuan di ranah privat saja. Ini lebih bagus,”ungkap Prof.Tandyo.
Namun meskipun demikian, dalam menjalankan peran publik ini perempuan harus hati-hati. “Jika tidak maka perempuan hanya lepas dari kekuasaan pria di ranah domestik, namun terjebak di ranah publik yang notabene adalah milik pria,”imbuhnya.
Terkait peran-peran tersebut, Prof. Dr.Anita Lie, pengamat pendidikan Jawa Timur dalam kuliah Tjokroaminoto mengatakan saat ini sedang terjadi dahaga publik dimana kiprah perempuan pemberani sangat dinantikan. “Ketika Prita Mulyasari atau Suciwati istri Munir berani mendobrak kelemahan perempuan, masyarakat sangat antusias dan terjadi dukungan besar-besaran. Ini adalah sebuah indikasi dahaga publik yang merindukan peran-peran perempuan di ranah publik,”ujar Anita Lie.
Dalam kepribadian anti korupsi pun, oleh sebagian pihak, perempuan dipercaya lebih jujur dan anti suap. Pernah, tutur Anita Lie, POLRI lebih banyak menurunkan polwan sebagai Polantas karena perempuan dianggap lebih jujur dan anti suap. Ini dilakukan untuk menurunkan kecenderungan aksi suap yang diduga sering dilakukan oleh para polantas. Meski sampai saat ini treatment itu belum diuji, namun ada indikasi positif terkait kepribadian anti korupsi yang dimiliki oleh perempuan. Terkait dengan hal itu Anita Lie membagi perempuan dalam lima tipe.
Ada tipe perempuan yang tak tahu pasangannya korupsi namun ikut menikmati hasil korupsi. Kemudian ada tipe perempuan yang tahu pasangannya korupsi namun membiarkan saja. Tipe ketiga adalah perempuan pencetus, atau perempuan yang tidak puas akan pendapatan suaminya dan menuntut lebih tanpa peduli cara apapun. Dan tipe selanjutnya adalah perempuan pelaku korupsi.
Tipe kelima adalah perempuan yang benar-benar anti korupsi. “Jadi pada dasarnya perempuan memang memiliki lima tipe itu. Yang paling bodoh menurut saya adalah tipe pertama yang tahu pasangannya korupsi namun ikut menikmati hasil korupsi,”ujarnya.
Sementara itu ketika memainkan peran di sisi domestik, perempuan adalah satu kekuatan penting untuk memberikan contoh terbaik melalui pendidikan anak sejak dini. Dra. Dewi Retno Suminar, MPsi, psikolog dari Unair mengungkapkan perempuan sebagai ibu harus tahu bahwa pendidikan yang paling pas untuk anak adalah pengasuhan bermartabat.
Pengasuhan bermartabat ini adalah pola pengasuhan yang mengedepankan sportivitas dan penghargaan pada anak. “Jangan sampai ketika kita berhadapan dengan orang di luar rumah kita berlaku penuh etika namun ketika di rumah, karena mungkin sudah capek sibuk di luar, nilai-nilai etika ini sudah tidak terlihat. Berlaku kasar pada anak, membanding-bandingkan antara anak satu dengan yang lain, sama sekali tidak membantu. Malah akan menjerumuskan. Anak menjadi temperamental, tidak percaya diri dan berprilaku pasif karena ketakutan yang berlebihan.
Lalu apa artinya kesuksesan ibu di sektor publik jika di sektor privatnya saja ia gagal,”papar Dewi. Ini mungkin yang harus dipelajari oleh seorang Susan, seperti cerita ilustrasi awal, bahwa ketika memainkan peran publik, seorang perempuan tidak boleh melupakan sektor privatnya. Karena dua peran ini sama-sama penting. (HUMAS UNAIR)
Dibaca: 52 kali

