“Ku-7-kan untuk Ayah dan Ibu Tersayang….
Ayah…, Ibu…., ini adalah surat pertama dan terakhir aku. Sebab aku tidak akan pernah menulis surat lagi. Aku dalam perjalanan… jauh entah ke mana. Aku harus lakukan ini. Aku telah melakukan kesalahan dalam hidup ini. Aku malu pada diriku sendiri. Aku malu pada kalian.
Suatu saat, aku mencoba menjadi anak yang berbakti. Setiap hari melihat Ayah bekerja hingga larut malam, rapat sana, rapat sini. Sementara ibu selalu sibuk dengan ibu-ibu pejabat lain. Menjamu ke restoran A – Z demi nama baik Ayah. Selepas itu semua, Ayah dan Ibu masih belum nyenyak beristirahat. Terkadang aku dengar dari luar dinding kamar, kalian masih bertengkar sampai dini hari, entah karena apa?
Pikirku, begitu berat kalian menghidupi aku. Mengatur giziku dengan makanan serba mahal, mengatur masa depanku dengan mengeluarkan beaya besar untuk mendapat pendidikan sekolah favorit. Jujur, aku kasihan melihat Ayah dan Ibu…
Aku mencoba menjadi anak berbakti. Aku ingin setiap pagi melihat Ayah dan Ibu duduk bersantai di teras, membaca koran dan menikmati secangkir kopi plus pisang goreng. Sejak setahun lalu, tanpa setahu Ayah dan Ibu, aku memutuskan keluar dari sekolah. Jika selama ini aku terlihat seperti masih sekolah, sebenarnya aku sedang belajar jadi model dengan uang sekolah itu.
Aku berhasil jadi model. Tetapi kemudian seorang pria ganteng berhasil mencuri hatiku. Kami jatuh cinta. Begitu cintanya sampai aku tidak pernah mempersoalkan kalau dia sudah beristri dan ayah dari 3 anak. Aku terpuruk. Kami terpaksa menikah karena aku menolak diminta menggugurkan kandunganku.
Ayah dan Ibu yang tercinta…
Aku, anakmu yang durhaka ini. Meminta maaf sekaligus restu. Relakan aku menjalani hidup ini. Aku ingin menebus kesalahan yang pernah aku perbuat. Setidaknya hanya dengan itu aku masih bisa berharap surga.
Aku memang harus meninggalkan kalian, meski itu sangat berat. Semoga semua menjadi hikmah….
NB: Ayah dan Ibu, masih banyak hal mengerikan yang tidak mungkin saya tulis semua dalam surat ini. Aku kemarin membaca surat kabar tentang seorang pejabat yang tengah tersandung masalah korupsi. Aku menduga pejabat itu adalah orang yang selama ini banting tulang menghidupi aku. Jika benar, aku hanya ingin berkata: Aku hanya perlu doa. Karena doa itu, Tuhan akan menjamin masa depan aku. Biarkan aku menenangkan diri di kamar. Jangan khawatirkan aku, karena aku bukan anak cengeng yang gampang terjebak oleh masalah seperti dalam surat saya di atas. Semoga Ayah tidak benar-benar terlibat korupsi, semoga Ibu kedepan lebih hati-hati menerima penghasilan Ayah, semoga Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk kembali ke jalan yang benar. Salaam… sampai ketemu lagi esok pagi.
Dari Ananda
Yang Selalu Mencintai Kalian dalam Suka dan Duka.“
Surat ini hanyalah imajinasi Satrijo Prabowo: Merenungi Idhul Adha
Dibaca: 31 kali


Smoga imajinasi anda, dpt mbuat yg lain tobat. N buat anak, jgn m’ambil jln yg sbnrny menurut saya salah.. Krn kt ksorga bkn krn kbaikan ato kslahan org lain…