Bojonegoro, zonaberita.com - Sudah empat bulan ini pelukis senior asal Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Kota, Bojonegoro, Siswanto, menjual karya lukisannya di tepi Jl. Teuku Umar, Bojonegoro. Selama itu, hanya 24 lukisan yang terjual.
Puluhan lukisan rata-rata beraliran realis digelar di depan kediaman temannya. “Saya terpaksa menjual lukisan di tepi jalan, karena faktor ekonomi juga untuk mempertahankan keberadaan saya sebagai pelukis,” katanya seperti dikutip kompas.com, Minggu (20/6/2010).
Selama empat bulan, tidak setiap hari lukisannya laku. Dia menggambarkan dalam dua pekan terakhir, tidak ada satupun lukisannya yang terjual. Dengan ditemani istrinya, setiap sore harus mengangkut semua lukisan dengan gerobak menuju rumah yang berjarak sekitar 400 meter dari tempatnya menggelar lukisan.
“Yang jelas, dengan cara menggelar lukisan di tepi jalan, saya mampu mempertahankan keberadaan sebagai pelukis, sebab dalam beberapa tahun terakhir, di Bojonegoro bermunculan pelukis baru dan generasi muda tidak banyak tahu bahwa saya pelukis. Saya tetap akan berkarya melukis dan menjual di sini, tidak menjual ke luar kota,” ungkapnya.
Bapak tujuh anak dan tujuh cucu itu menjelaskan dirinya sebelum ini sama sekali tidak pernah menggelar lukisannya di luar. Pembeli bisa memilih lukisannya atau memesan lukisan langsung datang ke kediamannya. “Untuk lukisan kecil dalam sehari saya bisa melukis empat lukisan,” katanya.
Sementara lukisan ukuran besar, bisa dikerjakan dalam dua hari. Selama empat bulan menggelar lukisan di tepi jalan tersebut, lukisannya yang laku terjual ada 24 lukisan, mayoritas beraliran realis dan dekoratif.
Lukisan itu laku dengan harga mulai Rp 300.000 hingga Rp 3 juta per lukisan. Pembelinya, selain masyarakat Bojonegoro, juga masyarakat Tuban dan Sidoarjo. “Lumayan bisa untuk menghidupi keluarga,” kata seniman yang mengaku sudah menekuni pekerjaaan sebagai pelukis sejak tahun 1961 itu. (**/isp)


