Probolinggo, zonaberita.com – Erik Susiana (31), guru tidak tetap (GTT) asal Desa Maron Wetan, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo meninggal bersama bayi yang di kandungannya setelah 9 jam menunggu penanganan tim medis Rumah Sakit Umum Daerah dr Waluyojati, Kraksaan, Kamis (21/1/2010).
Erik meninggal sekitar pukul 14.00 WIB. Pihak keluarga menyebut, almarhum menunggu sekitar 9 jam untuk mendapatkan penangan dari tim medis rumah sakit. “Kami kecewa dengan pihak rumah sakit. Masak adik saya yang lagi kritis diabaikan dengan berbagai alasan,” ujar kakak korban, Titin.
Menurut Titin, lambannya penanganan pihak rumah sakit hingga mengakibatkan Erik meninggal sudah dirasakan sejak korban masuk rumah sakit pada Rabu (20/1/2010) siang kemarin. Namun karena ia berharap adiknya dapat melahirkan dengan selamat, ia menunggunya dengan sabar.
Tapi, Erik yang seharusnya segera mendapat pertolongan dengan posisi bayi sungsang tidak segera ditangani. Dan yang paling menyakitkan, lanjut Titin, untuk menenangkan pihak keluarga, Erik dipindah dari kamar pasien ke ruang operasi untuk dioperasi.
Meski sudah berada di ruang opperasi, Titin menyebut tak ada penanganan segera. Lalu, para perawat kembali memindah Erik ke kamar pasien dengan alasan dokter yang menangani sedang rapat. Selain itu, alat operasi berikut dengan ruangannya hendak disterilkan.
Meski Titin bersusah payah meminta adiknya segera ditangani lantaran tidak kuat menahan sakit, pihak RSUD bergeming. Bahkan, tetap menjawab dengan alas n yang sama. “Saat saya meminta adik saya segera ditangani, para perawat di rumah sakit hanya bilang tunggu saja sampai dokternya ada. Tidak berselang lama, akhirnya Erik meninggal dunia,” terang Titin.
Kejadian itu membuat keluarga korban marah. Suami Erik, Ponidi (32), kalap. Menurut Titin, Ponidi sempat mengamuk dan memecahkan kaca di ruang bersalin RSUD. Kemarahan Ponidi terus berlangsung sampai rumah. “Ia shock,” kata Titin.
Belum ada keterangan resmi dari pihak rumah sakit soal lambannya pelayanan kepada pasien seperti diungkapkan Titin. Pun halnya dengan Direktur RSUD Waluyojati, Hariyadi, saat dihubungi via ponselnya tidak ada jawaban. (amo/hs)
Dibaca: 32 kali


