Osteoarthritis, Lima Bersaudara Benjol-benjol

Maulidi hanya bisa tergolek karena osteoarthritis. (foto:zonaberita/osi)

Maulidi hanya bisa tergolek karena osteoarthritis. (foto:zonaberita/osi)

Pamekasan, zonaberita.com - Pengapuran tulang (osteoarthritis) ternyata tidak bisa disepelehkan. Lima bersaudara warga Desa Durbuk Kecamatan Pademawu Kabupaten Pamekasan, selama bertahun-tahun nyaris tidak bebas bergerak karen terserang penyakit ini.

Penyakit itu membuat setiap tulang persendian muncul benjol-benjol sebesar bola tennis. Rasanya panas dan nyeri hingg untuk berdiri saja terasa sakit hebat.

Kelima bersaudara adalah Khairil Anam (35), Nurul Fajariah (32), Ahmad Fanani (30), maulidi (24) dan Muhamad Basrudin (20). Kepastian mereka terkena osteoarthritis setidaknya disampaikan dr La Fadi, dokter Puskesmas Sapa’ah, yang diminta Bupati Pamekasan Drs KH Khalilurrahman memeriksa mereka.

Bupati yang juga seorang ulama itu mengaku mendengar derita yang dialami kelima saudara itu saat turba. Ia langsung mengajak dr La Fadi menjenguk mereka, Selasa (9/3/2010).

“Kami akan membawa penderita ke RSD untuk diperiksa ulang. Jika RSD tidak mampu menangani, kami akan rujuk ke RSUD Dr Soetomo Surabaya,” kata bupati sembari menyatakan akan menanggung beaya pengobatan kelima bersaudara itu.

Tentu saja kesediaan Bupati Khalilurrahman membuat kelima bersaudara itu terharu. Seperti dituturkan Nurul Fajariah, ia dan kakak-adiknya sudah berusaha berobat. Sama halnya dikatakan dr La Fadi, setiap dokter menyatakan mereka menderita osteoarthritis. “Tapi herannya kok tidak sembuh-sembuh,” katanya.

Nurul dan kakak-adiknya telanjur menganggap penyakitnya sebagai penyakit aneh. Penyakit itu membuat setiap persendian mereka tumbuh benjol-benjol sebesar bola tennis.

Dikatakan, penyakit itu menimpa dirinya dan saudaranya ketika usia menginjak 16 tahun. Rasanya, seluruh persedian dan tulang nyeri hebat, sampai tidak bisa berdiri. “Rasa sakit ini menyerang kala malam hari. Seluruh persendian nyeri dan panas tidak bisa digerakkan dalam waktu lama. Jangankan berjalan, berdiri saja susahnya bukan main,” ujar Nurul, yang kini kondisinya agak membaik.

Diakui, ketika kali pertama penyakit itu menyerang kakaknya dan dibawa ke dokter, katanya terkena osteoarthritis (pengapuran)dan asam urat. Tapi Nurul Heran, karena penyakit itu tidak sembuh-sembuh, bahkan menimpa dirinya dan ketiga adiknya. Karena putus asa dan tidak punya biaya, maka keluarganya menghentikan pengobatan. “Kami keluarga miskin, tidak punya uang buat berobat terus menerus dan tidak jelas kapan sembuhnya,” kata.(osi/ijo)

Dibaca: 31 kali

Bookmark and Share
Berlangganan artikel gratis?, masukkan email anda:

Komentar anda

Nama lengkap (wajib diisi) :
Alamat email (wajib diisi) :
Situs anda :